Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Rabu, 09 April 2014
Cara Terbaik Memilih Susu untuk Anak Anda
Anak Anda sering mencret setelah minum susu? hati-hati. Ada kemungkinan anak Anda tidak tahan laktosa. Ini merupakan satu kandungan dalam susu yang tak jarang membuat anak mencret-mencret setelah meminumnya.
Menurut spesialis gizi klinik dari RS St Carolus, Jakarta, dr Lanny Ch Salim, Ms, tak jarang anak yang tak tahan laktosa sudah bisa diatasi dengan cara ini (minum susu rendah laktosa). ''Kalau itu tidak bisa baru diberikan susu yang bebas laktosa (susu kedelai).''
Kalau untuk bayi yang sudah di atas enam bulan, biasanya untuk membedakan apakah ia diare karena suatu penyakit atau diare karena intoleransi laktosa, maka anak tersebut diberikan obat diare dulu. Apabila setelah diobati dia sembuh, berarti penyebabnya karena suatu penyakit (misalnya desentri), tetapi walau telah diobati diarenya tidak sembuh juga, maka diberhentikan dulu susunya.
''Kalau dengan dihentikan susu atau diganti susu yang laktosanya rendah, ternyata diarenya berhenti, berarti bayi tersebut tidak tahan terhadap laktosa.'' Pada bayi yang intoleransi laktosa, susunya dihentikan untuk sementara, tetapi harus disertai dengan diberi makanan yang mengandung gizi atau 'makanan diare' seperti tim nasi pakai hati, tetapi tidak perlu dengan sayur, tidak pakai lemak atau goreng-gorengan, tidak menggunakan banyak mentega. Lalu, dicarikan susu yang laktosanya rendah.
Pada awalnya anak yang intoleransi laktosa diberi susu yang rendah laktosa, tetapi bila diarenya terus menerus, bisa diberi susu yang sama sekali free laktosa, kemudian secara bertahap diberi susu yang rendah laktosa, lalu pelan-pelan selama 2-3 bulan berikutnya anak tersebut diberi susu yang mengandung laktosa. ''Maka, lama-lama anak tersebut akan beradaptasi.''
Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh anak yang intoleransi laktosa untuk menyesuaikan dan menjadi kebal terhadap laktosa? Itu, kata Lanny, sangat tergantung pada kondisi klinis dari si anak. Dan dalam hal ini, dibutuhkan juga kesabatan. ''Untuk mengatasi hal itu harus secara bertahap.'' Kata Lanny, makin dini anak diketahui bahwa ia intoleransi laktosa, akan makin cepat penyesuaian anak tersebut terhadap laktosa. Untuk itu memang perlu penyesuaian, sekitar 3-6 bulan, tetapi jangan sekali-kali menanamkan pada anak bahwa minum susu itu akan menyebabkan mencret.
''Omongan ibu pada anak tersebut mempengaruhi sekali, sehingga anak tidak mau minum susu sama sekali.'' Jadi kesimpulannya, kalau bayi yang tidak tahan laktosa orangtua tidak perlu panik. Bagaimanapun, bayi yang intoleransi laktosa bisa diatasi. Dengan bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh si anak akan berkembang sendiri, sehingga secara bertahap bayi/anak dapat mengkonsumsi susu dari yang rendah laktosa ke susu yang mengandung full cream.
[sumber:http://www.republika.co.id/berita/humaira/ibu-anak/13/02/25/mirq65-hatihati-pilih-susu-untuk-anak-mengapa]
Sumber lintascara.com
Rabu, 04 Desember 2013
Tips Merawat Bayi Paling Benar
![]() |
1. Pemberian ASI sebaiknya tidak boleh diselingi dengan susu formula.
Perlu dicatat bahwa bila tidak ada hal-hal yang menghalangi ibu memberikan ASI pada bayi seperti kondisi ibu yang sakit berat, atau bila mendapat sedang dalam tahap pengobatan dengan obat yang dapat dikeluarkan bersama ASI dan dapat membahayakan kesehatan bayi atau bila ASI tidak dapat keluar sama sekali, maka pemberian susu formula mendapat tempat.
Sebaliknya, bila ASI diselingi dengan pemberian PASI (Pengganti ASI, misalnya susu formula) padahal ibu tidak ada halangan memberikan ASI, akan memberikan dampak yang tidak baik. Produksi ASI akan berkurang karena tidak selalu dikosongkan melalui rangsangan hisapan bayi. Segala kebaikan dan manfaat ASI tentunya tidak akan diperoleh oleh bayi.
Selain itu, bayi akan mulai belajar minum dengan dot, yang bagi si kecil, kegiatan ini lebih menyenangkan karena ia tidak perlu bersusah payah mengisap namun pancaran susu cukup banyak. Mungkin, pernyataan berikut cukup bijak mewakili kondisi ini: untuk apa memberikan pengganti, jika yang digantikan masih ada. Setuju ya?
2. ASI adalah makanan yang terbaik bagi bayi.
ASI memang terbukti paling unggul dan merupakan makanan terbaik bagi bayi. Apa pasal? ASI adalah anugerah terindah dari Tuhan untuk bayi. Anda akan tercengang karena begitu banyak kandungan gizi di dalam ASI. Apa saja yang manfaat ASI? Pertama, ASI mengandung semua kebutuhan gizi yang diperlukan bayi. Kedua, ASI mengandung zat gizi yang mudah dicerna bayi.
Ketiga, produksi ASI sesuai dengan kebutuhan bayi. Kemudian, yang keempat, ASI mengandung berbagai zat anti sehingga bayi tidak mudah terkena infeksi. Manfaat kelima adalah ASI tidak mengandung kuman. Keenam, ASI selalu segar dan tidak pernah basi serta bisa diberikan kapan saja dan dimana saja. Ketujuh, ASI dapat mencegah alergi.
Dan kedelapan, yang merupakan bagian terpenting, ASI akan mempererat hubungan batin antara Anda dan dirinya. Masih adakah alasan kita untuk tidak memberikan ASI untuk si kecil? Berikanlah ASI secara ekslusif hingga bayi berusia 6 bulan.
3. Bayi sebaiknya tidak ditidurkan dalam keadaan tengkurap.
Di negara kita, kebanyakan bayi ditidurkan dalam posisi yang alami yakni terlentang. Dulu, kerap dianjurkan agar bayi ditidurkan dalam posisi tengkurap atau telungkup. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari bahaya tersedak atau aspirasi, yakni istilah untuk masuknya makanan ke dalam saluran pernapasan saat bayi gumoh atau muntah.
Padahal, yang dapat terjadi justru sindrom kematian mendadak pada bayi yang ditidurkan telungkup. Lain hal bila bayi sudah dapat tengkurap dengan sendirinya, biarkan ia mencari sendiri posisi tidurnya yang nyaman. Jadi dianjurkan, sebelum bayi berusia 4 bulan, sebaiknya tidak menidurkan bayi dalam posisi telungkup atau tengkurap.
4. Bayi akan tampak sering tertidur.
Tidak perlu terlalu kuatir. Pada bulan-bulan pertama kehidupannya, bayi lebih banyak menghabiskan waktunya dengan tidur. Ia biasanya hanya bangun bilamana lapar atau ada hal yang membuatnya tidak nyaman misalnya basah karena buang air kecil atau buang air besar. Bayi baru lahir memang belum mengenai perbedaan siang dan malam.
Anda pun tidak perlu kuatir karena bayi tidur sesuai dengan kebutuhannya. Rata-rata, bayi baru lahir tidur 16 jam sehari. Kemudian hingga usia 6 bulan, kebutuhan tidurnya mulai bervariasi antara 10 hingga 18 jam sehari. Namun, bila si kecil sudah tidur lebih dari dua jam, tidak ada salahnya Anda bangunkan untuk diberikan ASI.
5. Pemakaian gurita atau bedong pada bayi tidak dianjurkan.
Sejatinya, bayi dipakaikan gurita dengan tujuan untuk menghangatkan bayi dan mencegah pusar bodong. Hal ini tidak dianjurkan karena memang tidak beralasan. Pemakaian gurita, apalagi bila dipakaikan terlalu ketat, dapat menekan dinding perut bayi sehingga tidak dapat secara bebas mengembang sewaktu bernapas. Alhasil, gurita akan menghalangi pernapasan bayi.
Selain itu, gurita yang terlalu ketat juga akan menekan dinding perut sehingga dapat menyebabkan bayi lebih mudah muntah ataupun gumoh.
Sedangkan pemakaian bedong biasanya dengan tujuan mencegah kaki bayi bengkok. Hal ini juga tidak ada pembenarannya. Pembedongan bayi, sebenarnya lebih tepat bila ditujukan agar bayi merasa hangat dan tidur dengan tenang, namun dengan catatan, kenakan bedong dengan longgar. Yang sering terjadi adalah bayi dibedong terlalu rapat dan kuat.
Padahal ini tidak boleh karena dapat mengganggu peredaran darah, menghambat pernapasan, dan juga dapat mengganggu perkembangan gerakan (motorik) bayi karena tangan dan kakinya tidak dapat bergerak dengan leluasa.
6. Cara bijak memandikan bayi.
Sebenarnya, bayi tidak perlu dimandikan (yakni dengan mencelupkan ke dalam bak mandinya) dalam 1 – 2 minggu pertama. Namun bayi harus tetap dibersihkan dan dikeringkan setiap kali pipis atau buang air besar. Kalau puntung talipusat belum puput, bayi cukup dibersihkan dengan lap saja karena puntung talipusat yang basah, cenderung menimbulkan infeksi.
Gunakan air hangat-hangat kuku. Bukalah pakaiannya dan segera selimuti dengan handuk. Buka daerah tubuh bayi yang akan dilap saja agar bayi tidak kedinginan. Untuk wajah, tidak perlu menggunakan sabun. Gunakan sabun untuk mengelap bagian tubuh lainnya. Jangan lupa bersihkan juga daerah selangkangannya.
Kalaupun Anda lebih memilih untuk memandikannya, tidak mengapa. Yang penting, tahu caranya. Bila talipusat belum puput, Anda dapat menyelupkan ke dalam bak mandi kecil khusus si kecil. bayi boleh dimandikan di dalam bak mandi kecil. Gunakan air hangat-hangat kuku.
Masukkan bayi secara perlahan-lahan. Mula-mula, basuhlan wajah, bagian kepala, kemudian seluruh tubuhnya tanpa menggunakan sabun. Lalu basuh kembali tubuh dan bagian lainnya dengan sabun, kemudian dibilas. Bila talipusat belum puput, segera keringkan talipusatnya seusai mandi dan olesi dengan alkohol 70%.
7. Bayi tampak kuning pada minggu pertama masih dianggap normal.
Kuning pada bayi, atau istilah medisnya adalah ikterus, boleh jadi hal yang normal dan bisa juga sebaliknya. Pada sebagian besar bayi, kondisi ini masih normal. Kuning pada bayi biasanya muncul pada hari ketiga setelah lahir, terlihat samar-samar Warna kuning ini disebabkan adanya kadar bilirubin – suatu zat hasil pengolahan sel darah merah – yang meninggi di dalam darah. Bila diperiksa, kadarnya mencapai 5 mg per 100 cc darah atau lebih.
Normalnya, kadarnya kurang dari 1 mg per 100 cc darah. Warna kuning ini harus menghilang setelah minggu kedua. Jadi, bila kuning muncul sedari hari pertama atau kuningnya tidak menghilang setelah 10 hingga 14 hari, sebaiknya perlu diperiksa dengan teliti. Kadar bilirubin yang terlampau tinggi, pada bayi baru lahir, dapat membahayakan bayi karena dapat merusak otak.
Sumber : lintascara.com
Sumber : lintascara.com
Langganan:
Postingan (Atom)

